real estate menu left
real estate menu right

Jejak Pendapat

Siapakah Penulis Yang Paling Anda Sukai
 

Stock Foto

Tidak semua penerbit buku mempunyai peralatan dan sumberdaya fotografi. Padahal foto hampir menjadi bagian penting dalam sebuah buku. Tidak jarang kualitas foto mempengaruhi kualitas buku yang diterbitkan yang berimbas pada penjualan buku. Tidak hanya sebagai literary agent, Tantular Publisher juga punya talenta dan peralatan fotografi lengkap. Juga stock foto yang bisa digunakan oleh teman-teman penerbit. Studio kami yang dinamis tidak hanya menggunakan kamera digital SLR profesional, tapi kami juga mempunyai kamera medium format digital yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Terutama untuk foto produk sampai pembesaran hasil foto tak terhingga. Silahkan hubungi kami untuk keperluan foto dan pemotretan sesuai kebutuhan dan budget Anda.
Home Resensi Buku
Newsfeeds
Resensi Buku PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 09 August 2008 08:33
Article Index
Resensi Buku
2
All Pages

RITUAL GUNUNG KEMUKUS

Penulis : F. Rahardi

Penerbit: Lamalera - Yogyakarta


Oleh
Dwin Gideon

Jakarta – Di balik kisah peziarah yang memercayai bahwa Gunung Kemukus adalah tempat ritual seks demi kekayaan, F Rahardi dalam novelnya, melihat sisi lainnya, yaitu protes peziarah yang umumnya pekerja keras. Menggugat ketidakadilan di negeri ini, berontak dari “takdir” kemiskinan.
Ritual seks di Gunung Kemukus diangkat penulis F Rahardi dalam novel berjudul Ritual Gunung Kemukus: Sebuah Novel. Kisahnya dimulai dari kemunculan Meilan yang berprofesi sebagai wartawati majalah Fidela di Jakarta.
Dia meliput Gunung Kemukus, meskipun dia biasanya meliput kegiatan fashion di luar negeri. Tentu saja, Meilan kaget dengan tugas tersebut, karena selain tak mengetahui masalah yang diistilahkannya sebagai perklenikan, dia juga tak memahami budaya di Gunung Kemukus. Namun, justru latar belakang wartawan seperti inilah yang diinginkan pemimpin redaksinya untuk dia menulis masalah tersebut.
Meilan mewawancarai banyak pihak untuk tulisannya, mulai dari peziarah, museum Radya Pustaka, ahli antropologi di UNS, hingga Romo Drajat, tokoh spiritual kejawen yang banyak tahu tentang Gunung Kemukus.
Namun, dia merasa belum memperoleh liputan seimbang, sebab belum bertemu peziarah yang gagal. Singkat cerita, Meilan bertemu peziarah yang gagal berkencan dengan pasangannya. Namanya Sarmin, pedagang bakso keliling asal Gunung Kidul, Yogyakarta, yang mengadu nasib di Jakarta.
Sarmin kehabisan uang pada kedatangannya yang terakhir di Gunung Kemukus. Oleh Meilan, dia diajak pulang ke Jakarta dengan Kereta Api Argo Lawu. Di sepanjang perjalanan dalam kereta api inilah Sarmin diwawancarai Meilan mengenai praktik penziarahannya.
Secara keseluruhan, novel ini hendak menggambarkan ritual penziarahan yang mayoritas diikuti kelompok masyarakat marginal dan miskin sebagai gugatan ketidakadilan. “Yang menjadi pokok soal bukan upaya mencari kekayaan melalui cara yang kontroversial, melainkan telah terjadi ketidakadilan distribusi pendapatan,” kata F Rahardi dalam diskusi novel yang diselenggarakan di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Sabtu (29/11).
Rahardi menilai ketidakadilan ini dapat dilihat pada keadaan masyarakat pekerja berat yang justru memperoleh pendapatan paling kecil, sementara bangsawan yang tinggal di sekitar kekuasaan bisa memperoleh pendapatan melimpah tanpa bekerja keras. Maka, fenomena di Gunung Kemukus pun bukan sekadar dimaknai ritual seks untuk mencari kekayaan, namun juga simbol perlawanan rakyat kecil yang termarginalkan.

“Legenda” Kemukus
Gunung Kemukus adalah lokasi penziarahan di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Yang disebut gunung itu sebenarnya hanyalah gundukan kecil bernama Kemukus. Letaknya di sisi barat jalan raya Surakarta Purwodadi, di tepi Waduk Kedungombo.
Para peziarah memercayai Gunung Kemukus sebagai tempat keramat berdasarkan legenda yang berkembang secara lisan. Tersebutlah Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan, yang merupakan anak dan selir Prabu Hudhara (Brawijaya VII, 1498-1518), raja terakhir Majapahit.
Setelah runtuhnya Majapahit, keduanya berpindah ke Demak Bintoro di Jawa Tengah. Anak dan ibu tiri dari Majapahit ini lalu terlibat skandal asmara, terusir dari Demak, dan pihak yang tidak menyukainya terus mengejar pasangan ini.
Di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan terkejar, dibunuh, lalu dimakamkan di satu liang lahat. Menurut legenda, ketika pasukan pengejar datang, mereka berdua sedang melakukan hubungan seks di alam terbuka. Karena itu, setelah tewasnya pasangan ini, beredar kabar, “Barang siapa bisa melanjutkan hubungan seks yang terputus ini, segala keinginannya akan terkabul!”
Dari legenda ini, Gunung Kemukus berkembang menjadi lokasi penziarahan kontroversial, karena adanya ritual seks sebagai upaya meraih sukses untuk mencari kekayaan. Apabila ritual delapan bulan ini terlaksana dengan baik, si peziarah akan bisa meraih kekayaan materi. Karenanya, mereka yang datang ke Gunung Kemukus umumnya pedagang dan pengusaha kecil.
 
Sumber: Sinar Harapan


Last Updated on Wednesday, 06 May 2009 06:43
 


Powered by Joomla!. Designed by: Free Joomla 1.5 Theme, ntc hosting. Valid XHTML and CSS.