real estate menu left
real estate menu right

Stock Foto

Tidak semua penerbit buku mempunyai peralatan dan sumberdaya fotografi. Padahal foto hampir menjadi bagian penting dalam sebuah buku. Tidak jarang kualitas foto mempengaruhi kualitas buku yang diterbitkan yang berimbas pada penjualan buku. Tidak hanya sebagai literary agent, Tantular Publisher juga punya talenta dan peralatan fotografi lengkap. Juga stock foto yang bisa digunakan oleh teman-teman penerbit. Studio kami yang dinamis tidak hanya menggunakan kamera digital SLR profesional, tapi kami juga mempunyai kamera medium format digital yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Terutama untuk foto produk sampai pembesaran hasil foto tak terhingga. Silahkan hubungi kami untuk keperluan foto dan pemotretan sesuai kebutuhan dan budget Anda.
Home
Atheisme dalam Old Surehand I (Karl May) PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 07 July 2007 09:54

Dalam buku Menjelajah Negeri Karl May (nama pengarangnya tidak jelas, mungkin orangnya malah tidak benar-benar ada), disebutkan bahwa seorang anggota Paguyuban Karl May Indonesia memberi kesaksian bahwa hingga di bangku SD klas 5, dia adalah seorang atheis , karena ayahnya mengajarinya begitu sejak kecil. Belakangan, ketika membaca buku Old Surehand I (judul buku versi lama: Llano Estacado) barulah dia tersadar, dan mulai belajar mengenal Tuhan.

Dalam tulisan semi-biografi yang berjudul: "Suka-dukanya Menjadi Karl May", disebutkan bahwa ada beberapa pembaca yang mengaku mulai mengenal Tuhan kembali setelah membaca adegan yang dikenal sebagai "perjalanan malam di Llano Estacado."

Old Surehand I (1894) (jangan keliru dengan Old Shatterhand ya, baca buku Karl May bikin orang harus teliti dengan bahasa Inggris :-) ) ditulis begitu Karl May selesai menulis masterpiece-nya, Winnetou I (1893).

Berikut cuplikannya, percakapan antara si narator (Old Shatterhand) dan seorang atheis berusia 90 tahun, si Raja Cowboy, Old Wabble. "Wajah" keduanya bisa Anda lihat versi komiknya di http://indokarlmay.com. Mirip atau tidak terserah penafsiran masing-masing.

"Bukan begitu maksud saya! Saya tahu, Anda tidak membutuhkan guru. Tapi, saya belum pernah melihat seseorang menunggang kuda dengan tangan terkatup, seolah-olah ia berkuda di bangku doa dan di kursi ratapan. Baru sekarang saya melihatnya, Mr. Shatterhand."

"Bangku doa dan kursi ratapan? Bagaimana Anda bisa menggabungkan keduanya?"

"Itu menurut pendapat saya, Sir."

"Jadi, Anda menganggap doa dan ratapan adalah hal yang sama?"

"Yes."

"Dengar, itu adalah lelucon bodoh!"

"Lelucon? Tapi saya serius!"

"Tidak mungkin! Siapa yang mengartikan doa sebagai ratapan!"

"Saya!"

Saya memandangnya sambil mengernyit, kemudian saya bertanya,

"Apakah Anda sering berdoa?"

"Tidak."

"Atau kadang-kadang saja?"

"Juga tidak."

"Sama sekali tidak pernah?"

"Sama sekali tidak!” angguknya. Nada bicaranya terdengar sombong.

"Ya, Tuhan, saya tidak mempercayainya!"

"Terserah, Anda mau percaya atau tidak. Pokoknya, saya belum pernah berdoa."

"Juga di masa muda Anda, saat Anda masih anak-anak?"

"Juga tidak."

"Apakah Anda tidak punya ayah yang pernah mengajarkan tentang Tuhan kepada Anda?"

"Tidak."

"Juga tidak punya ibu yang mengajarkan cara berdoa kepada Anda?"

"Tidak."

"Apakah Anda juga tidak punya kakak perempuan yang mengajarkan doa anak-anak?"

"Juga tidak."

"Menyedihkan sekali. Sangat menyedihkan! Ternyata di dunia ini ada seorang manusia yang berusia lebih dari sembilanpuluh tahun dan dalam waktu selama itu belum pernah sekali pun berdoa! Sekalipun seribu orang menceritakan hal ini kepada saya, saya tidak mempercayainya, ya, saya tidak akan dan tidak dapat mempercayainya, Sir."

"Karena saya sendiri yang mengatakannya, Anda bisa mempercayainya."

"Mempercayainya? Tapi saya tidak bisa mempercayainya, tidak sama sekali!"

"Saya tidak tahu alasan mengapa menurut Anda, saya mengganggu ketenangan Anda dengan hal sepele yang bagi saya sama saja!"

"Sama saja? Apakah bagi Anda hal itu benar-benar sama saja, Mr. Cutter?"

"Betul sekali!"

"Mengerikan!"

"Pshaw! Saya tak menyangka bahwa Anda adalah seorang pendoa!"

"Pendoa? Saya bukanlah orang seperti itu, jika makna kata tersebut seperti yang dikatakan oleh orang atheis."

"Yang saya maksud memang seperti itu, persis seperti itu. Apakah saya tidak percaya kepada Tuhan? Hmm!"

"Itulah Anda, orang yang tidak percaya kepada Tuhan."

"Dengarlah, jangan merasa hebat, Mr. Shatterhand! Saya adalah seorang gentleman, bukan pengecut. Saya selalu melakukan apa yang saya anggap benar dan saya ingin melihat orang yang menyebut saya sebagai seorang yang tidak bertuhan!"

"Lihatlah saya!"

"Apakah Anda benar-benar serius?"

"Benar-benar serius. Anda telah melakukan apa yang Anda anggap benar, kalau begitu Anda adalah orang yang membuat peraturan sesuka hati Anda. Apakah tidak ada peraturan yang lebih tinggi daripada peraturan Anda?"

"Hmm! Undang-undang Amerika Serikat yang saya patuhi."

"Tidak ada yang lain?"

"Tidak."

"Tidak adakah aturan moral, agama, dan Tuhan?"

"Bagi saya tidak ada. Saya dilahirkan, sudah kenyataannya seperti itu. Saya terlahir seperti apa adanya saya. Itu adalah kenyataan yang kedua. Saya tidak bisa menjadi orang lain, selain diri saya sendiri. Itu adalah kenyataan yang ketiga. Saya sama sekali tidak memikul kesalahan sedikit pun akan siapa saya dan apa yang saya lakukan. Itu adalah kenyataan utama. Yang lainnya tidak masuk akal dan konyol."

"Dengarkan, Mr. Cutter, logika Anda timpang."

"Biarkan seperti itu, Sir! Saya dilahirkan ke dunia ini tanpa ditanyai terlebih dahulu dan saya akan meninggalkan dunia ini juga tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada siapa pun. Oleh karena itu, saya tidak membutuhkan agama ataupun Tuhan."

Sumber: www.indokarlmay.com

Last Updated on Thursday, 07 May 2009 10:41
 


Powered by Joomla!. Designed by: Free Joomla 1.5 Theme, ntc hosting. Valid XHTML and CSS.